Sehat Itu Kaya

July 3rd, 2006 by chuang

Ketika kecil dulu, saya senang sekali jika pada suatu hari saya jatuh sakit. Sakit bagi saya adalah kesempatan untuk bermanja-manja, untuk mendapatkan perhatian lebih dari orangtua saya. Dan pada kasus-kasus tertentu, jatuh sakit atau pura-pura sakit bisa menjadi alasan terbaik untuk tidak masuk sekolah.

Tetapi sekarang, saat umur makin tua dan kemanjaan makin berkurang, jatuh sakit justru menjadi suatu kesulitan dan ketidaknyamanan yang menganggu aktivitas saya. Contohnya seperti kejadian baru-baru ini, ketika saya harus menjalani operasi katarak pada mata saya.

Sebelum operasi dilakukan, saya mengira bahwa ini cumalah soal sederhana: begitu katarak itu dihancurkan via operasi dan lensa mata yang baru telah dipasang, maka soalnya jadi beres sudah: penglihatan langsung terang jelas dan saya tidak perlu membatasi kegiatan-kegiatan rutin saya.

Nyatanya tidak sesederhana itu. Operasi ternyata hanyalah satu tahap, tahap berikutnya pasca operasi benar-benar membuat saya merasa repot dan tidak nyaman. Disamping penglihatan ternyata harus mengalami masa kabur selama 2 atau 3 minggu dan mata terasa tidak nyaman, saya pun harus terus makan obat 2 atau 3 kali sehari, meneteskan obat tetes tertentu tiap 2 jam sekali, memakai kacamata gelap sepanjang hari untuk melindungi mata dari sinar, menjaga mata supaya tidak terkena air dan sebagainya. Dan yang paling menyiksa: untuk waktu yang cukup lama, saya tidak bisa membaca buku atau menonton tv.

Selama menjalan prosedur pasca operasi yang menimbulkan ketidaknyamanan dan membatasi kegiatan rutin saya sehari-hari itulah, baru saya sadari betapa berharganya kesehatan itu, dan alangkah beruntungnya orang-orang yang sehat, yang jiwa raganya berfungsi sebagaimana mestinya. Dalam kaitannya dengan kesadaran ini, saya teringat kata-kata dari orang bijak yang berujar, "Manusia seringkali baru menyadari sesuatu itu berharga ketika ia telah kehilangan sesuatu itu."

Tanyalah pada seorang penderita kelainan jantung atau penyempitan pembuluh darah akibat terlalu banyak timbunan kolesterol atau karena kebiasaan merokok. Bagaimanakah penderitaannya karena kelainan atau penyakitnya itu? Bagaimanakah rasanya terkena serangan jantung? Bagaimana ketidaknyamanan hidupnya untuk berpantang makan ini makan itu, untuk tidak boleh berkegiatan ini berkegiatan itu, untuk harus ingat makan sekian pil pada waktu-waktu yang telah ditentukan, untuk terus harus bersiap-siap suatu ketika akan dijemput oleh malaikat maut? Juga, tanyalah pula seperti apa rasa bosannya karena harus terus bertemu makhluk putih-putih berstetoskop? Dan berapa banyak pengorbanan materi (baca: duit) yang harus ia lakukan untuk tetap menjaga hidupnya? Saya yakin dari jawaban-jawabannya, di samping terlontar harapan-harapan akan kesehatannya, kita akan menemukan banyak ungkapan-ungkapan penyesalan dan rasa "iri" terhadap orang-orang yang sehat.

Bagi seorang anak kecil yang masih suka bermanja-manja, terkena flu atau demam boleh saja menjadi kesempatan untuk mendapat perhatian lebih dari orangtuanya, atau sebagai peluang untuk menghindar dari pelajaran matematika di sekolah. Tetapi bagi kebanyakan kita, jatuh sakit justru akan menjadi awal dari kesulitan-kesulitan dan ketidaknyaman yang membatasi kegiatan kita sehari-hari. Dan di masa ketika materialisme berkuasa seperti sekarang ini, jatuh sakit bisa berarti jatuh miskin.

Bahwa sehat itu adalah kekayaan yang utama, bahwa sehat itu berarti kaya (tetapi tidak sebaliknya), mungkin banyak orang pernah mendengar dan setuju dengan pernyataan-pernyataan itu. Tetapi bila kita lihat di seputar kita, tampaknya, kesehatan adalah hal terakhir yang kita sadari untuk disyukuri.

Banyak contoh yang dapat ditulis di sini mengenai wujud dari tiadanya rasa syukur itu. Antara lain, bermuram durja, putus asa, menyia-siakan energi muda dengan merokok, begadang, minum minuman keras, minum pil koplo atau sejenisnya dan sebagainya kegiatan-kegiatan tak berguna yang hanya menyakiti dan merusak diri sendiri.

Jadi, saya percaya, disamping hemat, sehat itu juga pangkal kaya. Karena sehat itu salah satu dari kekayaan yang utama, maka orang yang sehat adalah orang yang kaya. Tetapi tidak sebaliknya: apa gunanya kita punya segudang uang dan emas jika untuk makan coklat sebatang pun kita tak boleh atau tak bisa?

Chuang 151102

Anak Kecil

July 3rd, 2006 by chuang

Mengamati tingkah laku keponakan laki-laki saya, sungguh mengasyikkan. Hong-hong, nama anak itu, suka sekali dengan segala benda yang bagi saya sangatlah remeh. Ia misalnya, suka dengan segala macam kardus, karet gelang, tali, sapu, payung dan bahkan juga sandal jepit dekil milik saya.

Ketika ia mengambil sandal jepit dekil saya, saya biasanya akan berteriak kepadanya "Hus, itu eek lho!" Tetapi rupanya ia tidak peduli, atau belum mengerti bahwa sebaik-baiknya sandal, tetapnya kotor karena tempatnya dibawah. Ia hanya tahu sandal jepit dekil itu menarik hatinya.

Saya jadi teringat kembali pada kenangan masa kecil dulu. Ada seorang kakak sepupu saya yang juga suka sekali mengumpulkan benda-benda remeh temeh, dan menganggap benda-benda itu adalah harta kekayaannya. Seperti bungkus rokok (bungkus rokok Marlboro lebih berharga ketimbang bungkus rokok Gudang Garam), kartu-kartu bergambar (kartu bergambar Superman lebih sakti ketimbang kartu bergambar Robin) dan kelereng (kelereng dengan warna-warna tertentu nilainya bisa 2 kali kelereng biasa).

Saya tidak tahu bagaimana persisnya penjelasan tentang mengapa anak-anak kecil suka sekali dengan benda-benda yang bagi orang dewasa sangatlah remeh. Tetapi yang pasti, kita semua tidak berbeda dengan anak-anak kecil itu.

Kita hdiup di dunia ini dan kita tertarik dengan segala macam benda-benda duniawi, yang bagi para suci, dipandang sebagai benda-benda remeh temeh. Kita menyukai kenikmatan hidup yang diberikan oleh materi duniawi, sama seperti anak-anak kecil menyukai benda-benda remeh temeh, dan menganggap hal itu sangat berharga.

Chuang 180801

Rasa Manis, Rasa Pahit

April 29th, 2006 by chuang

Di dalam buku "Seni Hidup Bahagia" yang memuat perbincangannya dengan Howard C Cutler M.D, seorang Dalai Lama mempunyai keyakinan bahwa pada dasarnya setiap orang itu baik. Demikian juga seorang Anne Frank, anak yahudi yang menjadi korban kekejaman NAZI Jerman. Melalui buku hariannya yang pernah diterbitkan dalam bentuk buku, kita dapat temukan keyakinan yang sama pula.

Dan saya di sini, melalui pengalaman yang saya alami sendiri, juga berkeyakinan yang sama seperti mereka: pada dasarnya setiap orang itu baik adanya.

Saya ingat pengalaman saya sewaktu saya masih sebagai seorang bayi. Ketika sakit, saya harus diberi obat yang pahit sekali. Saya menolak dengan keras sambil meronta-ronta dan menangis. Sangat berbeda halnya ketika sebuah permen loli diberikan kepada saya, dengan sukacita saya menyambut manisnya rasa permen itu.

Siapakah yang mengajarkan seorang bayi menolak rasa pahit dan siapa pula yang memberitahu seorang bayi akan nikmatnya rasa manis?

Saya kira tidak ada, sebab itu semua timbul dari kesadaran kita sendiri yang menginginkan rasa manis ketimbang rasa pahit: menginginkan kebahagiaan ketimbang penderitaan, kebajikan ketimbang kejahatan.

Tetapi bila soalnya seperti itu, pastilah lalu akan muncul pertanyaan di dalam benak kita, sebuah pertanyaan yang muncul pula di benak Howard C Cutler ketika ia berbincang-bincang dengan Dalai Lama mengenai topik ini: tentunya dengan kenyataan bahwa setiap manusia pada dasarnya baik, menginginkan kebahagiaan ketimbang penderitaan, maka seharusnya tindakan-tindakan kita secara otomatis haruslah merupakan tindakan-tindakan yang baik pula, tindakan-tindakan positif yang bersifat memelihara kebahagiaan kita, bukan? Kenyataannya?

Saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Dalai Lama untuk menjawab pertanyaan itu. Kata beliau, persoalannya tidak seserdehana itu. Meskipun benar bahwa ada potensi positif (baik) di dalam diri setiap orang, nyatanya potensi itu harus kita kembangkan dalam pelbagai macam pelatiihan mental—spt meditasi, kontemplasi, mengembangkan kebajikan—untuk mendapatkan hasil yang kita semua cari: kebahagiaan, permen loli kehidupan.

Chuang 220701

Waktu yang Berlalu

April 29th, 2006 by chuang

Dari seluruh fenomena alam yang kita kenal, barangkali waktu adalah salah satu fenomena yang sampai sekarang masih menjadi misteri. Sebab, tak seperti zat yang dapat dilihat karena berwujud dan dapat dirasa atau diraba, waktu tak dapat dilihat karena tak kasat mata, tak dapat dirasa atau diraba, dan tak terdengar.

Waktu bisa jadi sesuatu yang aneh, lucu, atau absurd seperti yang ditulis oleh Alan Lightman dalam novel "Mimpi-Mimpi Einstein". Waktu bisa jadi sesuatu yang mekanistik sebagai hanya patok-patok yang tertancap pada angka-angka tertentu di lingkaran jam, atau pada kerja jadwal kerja, atau pada aliran rutinitas sehari-hari yang membosankan. Waktu pun bisa jadi tak berarti apa-apa bagi seseorang yang tak peduli padanya (dan waktu pun sesungguhnya juga tak pernah peduli padanya juga) Tetapi dari seluruh kemisteriusan yang ditimbulkan oleh waktu, kita mungkin bisa sepakat bahwa waktu itu proses atau perubahan yang menjadikan hari kemarin tinggal kenangan, dan hari ini beranjak tua jadi hari esok yang belum juga pasti wujudnya.

Waktu adalah yang membuat si gendut di dinding ruang tamu atau kamar kita makin hari makin kurus saja, karena lembar-lembar demi lembarnya terus berkurang seiring waktu hingga tanpa terasa dia menjadi kurus dan kita pun bersiap-siap menggantinya dengan si gendut yang baru lagi, yang biasanya datang dengan baju kebesarannya yang berselempang ucapan "Selamat Tahun Baru".

Waktulah yang membuat orang-orang bertambah tua, makin mendekat kepada akhir dari hidup yang ini tetapi awal untuk hidup yang lain. Dan sebagian dari yang bertambah tua itu juga bertambah bijak, tetapi sebagian yang lain bukan hanya bertambah tua, melainkan juga bertambah bodoh.

Saya berharap dan berusaha, seiring dengan waktu yang berlalu, saya akan menjadi tua dengan bijaksana.

Semoga anda pun demikian.

Chuang 171103

Orang-Orang yang Tak Nampak

April 29th, 2006 by chuang

Kehidupan yang kita jalani ini dapat diibaratkan seperti permainan jigsaw puzzle: untuk dapat menyelesaikan gambaran besar diperlukan gabungan potongan-potongan gambar kecil yang saling melengkapi.

Adalah manusiawi sekali di tengah-tengah rutinitas kehidupan sehari-hari, sebagian besar dari kita pastilah tidak pernah berpikir tentang orang-orang tak nampak yang merupakan potongan-potongan gambar yang membentuk kehidupan kita.

Pernahkah terlintas di dalam pikiran kita dari mana asal beras yang kita tanak menjadi nasi? Pernahkah terpikir dari mana asal kemeja yang kita kenakan? Dari mana asal sepatu, sandal, sabun, lauk pauk dan sebagainya itu? Mungkin dengan mudah sebagian dari kita menjawab itu semua berasal dari uang yang kita belanjakan di supermarket dekat rumah.

Tetapi jika mau jujur, jika kita coba menelusuri semua itu kembali ke asalnya, akan kita temukan betapa panjangnya daftar orang-orang tak nampak yang ikut berperan dalam mewujudkan semua itu.

Seperti beras dari sawah yang dikelola petani, petani mengolah sawah dengan bantuan sapi pembajak dan pupuk dari pabrik, dan pabrik berjalan atas kerjasama para karyawannya. Atau seperti kemeja yang berasal dari kain yang dipintal dari benang yang diolah dari kapas yang ditanam petani dan tanah pertiwi menyediakan dirinya sebagai tempat tumbuh kembang untuknya.

Gambaran kehidupan kita terbentuk dari potongan-potongan kecil yang seringkali kita anggap remeh, hingga ia seolah-olah tak nampak ada dan kita berbesar kepala mengangkat dagu tinggi-tinggi karenanya.

Tanpa potongan-potongan kecil itu, tanpa orang-orang tak nampak itu, tak kan ada gambaran kehidupan ini: kita bukan siapa-siapa tanpa mereka.

Chuang 200701

Morrie

April 29th, 2006 by chuang

Morrie sang profesor menderita penyakit ALS atau dikenal luas sebagai penyakit Lou Gehrig, yang bila diibaratkan akan nampak sebagai seorang penyiksa ulung. Si penyiksa ulung ini akan menyiksa korbannya, dengan pertama-tama membuat kaki sang korban lumpuh, kemudian naik sedikit, naik sedikit, naik sedikit, hingga tak ada lagi anggota badan yang tak lumpuh.

Morrie sang profesor bukanlah seorang malaikat, atau seorang arahat (orang suci). Ia hanyalah manusia biasa, dan ia tak malu menjadi manusia biasa: ia menangis ketika tahu bahwa ajalnya akan segera tiba, ia kadang-kadang merasa iri melihat orang-orang sehat.

Tetapi satu hal yang menakjubkan dari seorang Morrie, adalah kemampuannya untuk menjadikan penyakitnya sebagai kesempatan untuk memberi kuliah-kuliah terakhir kepada para sahabatnya, kepada semua orang yang bersimpati kepadanya.

Di dalam bayangan saya, ketika Morrie sang profesor mengajarkan makna hidup melalui apa yang ia alami, ia nampak bagai Buddha ketika membabarkan kebenaran pertama dari empat kesunyataan yang telah Beliau pahami: Hidup adalah dukkha, kematian selalu membayang di setiap jejak langkah kita.

Membaca kisah Morrie sang profesor di dalam buku "Selasa Bersama Morrie", saya merasakan satu kedekatan yang aneh dengannya, seakan-akan Morrie hadir di hadapan saya untuk memberi pelajaran tentang kematian. Mengapa kematian demikian penting untuk dipelajari, adalah suara Morrie yang menjawab,"Begitu kita ingin tahu bagaimana kita akan mati, berarti kita belajar bagaimana kita seharusnya hidup".

Chuang 080601

Hujan

April 29th, 2006 by chuang

Hari ini adalah hujan pertama yang membasahi Kota Denpasar-Bali, setelah hampir empat bulan kemarau bertahta di sini. Hujan kadang memang membawa kesal di hati. Jika ada sesuatu urusan yang mesti diselesaikan di luar rumah, tentunya akan menjadi cukup merepotkan ketika hujan turun. Dan di kota-kota yang penataannya hanya memenuhi selera kekuasaan, seperti kota Denpasar ini, selalu ada suatu pemandangan yang klise manakala hujan mulai rajin berkunjung: di sini banjir, di sana banjir, di mana-mana banjir melulu. Tetapi tidak jarang hujan justru datang membawa pesan keindahan. Terutama ketika hujan setelah kemarau yang panjang seperti sekarang ini. Pastilah akan tercium wangi tanah kering yang seketika basah, dan juga aroma segar dari dedaunan dan rerumputan yang terbawa bersama kesejukan udara. Atau ketika hujan turun di ujung senja hari, ketika lampu-lampu malam mulai terbangun dari tidurnya, cahayanya terpantul begitu indah di setiap genangan air dan di seluruh badan jalan yang mengkilap seperti baru habis dipel. Hujan juga terkadang membawa lamunan kembali ke masa silam, ketika kecil asyik bermain hujan-hujanan: amboi betapa segarnya menikmati hujan primitif yang murni, yang masih belum dikenal sebagai “hujan asam”. Juga di masa itu, di waktu ketika kepolosan dan imajinasi masih bebas bersuka ria, hujan tampak bagai sebuah peristiwa ketika seorang dewa nun jauh di langit sana sedang menyirami kebunnya. Chuang 011201

Gandhi Yang Kesepian

January 17th, 2006 by chuang

Di masa seperti sekarang ini, di waktu amarah memenuhi udara dan dendam membakar dada setiap orang, adakah kita ingat akan Gandhi?

Meskipun orang-orang memberinya gelar Mahatma, Gandhi mungkin bukan sosok yang sempurna. Tetapi apa yang ia coba buktikan pada dunia, bahwa kekerasan dapat dilawan dengan kelembutan, api dipadamkan dengan air, telah membuka mata kita: ada satu cara yang jauh lebih mulia dalam menghadapi kekerasan.

Tetapi cara Gandhi itu, ahimsa, bukanlah cara yang mudah. Sebab ia membutuhkan kesabaran dan pengendalian diri, yang kedua itu pada kita makin lama makin pupus. Dikarenakan kehidupan kita yang hedonis, serba instan dan materialis.

Dan kini, ketika orang lebih memilih tuntunan amarah dan dendam, mata di bayar mata, nyawa di tukar nyawa, terror di balas terror, Gandhi tak teringat lagi. Gandhi yang malang. Gandhi yang kesepian di tengah hiruk pikuk amarah dan dendam balas membalas.

Chuang 280901

Orang Gila dan Orang Waras

January 17th, 2006 by chuang

Sebuah berita di koran hari ini melaporkan pada saya tentang sebuah survei yang hasilnya sungguh2 mengejutkan: satu di antara empat penduduk Indonesia mengalami gangguan jiwa.

Atau bila ditulis dengan kalimat yang lebih bombastis, kata gangguan jiwa pada judul laporan tersebut dapat diganti dengan kata "gila" (walaupun penggantian kata ini tidak sepenuhnya dapat dibenarkan, karena seseorang yang mengidap gangguan jiwa belum tentu gila), maka kalimat tersebut akan berbunyi sbb: satu di antara empat penduduk Indonesia adalah orang gila.

Tentunya ini bukan kabar yang menyenangkan, bukan? Sebab, siapa sih yang senang disebut sebagai orang gila? Mungkin reaksi kita akan persis sama seperti pejabat-pejabat di masa ORBA dulu, yang dengan serta merta bertingkah laku bak orang kebakaran jenggot kala mendengar kabar bahwa rakyat di daerahnya mengalami bencara kelaparan.

Kembali ke soal orang gila itu. Kita mengetahui atau kita dapat menyebut seseorang sebagai orang gila bila orang tersebut memenuhi kriteria-kriteria kegilaan. Dan sebaliknya, seseorang pun dapat disebut waras apabila orang tersebut memenuhi kriteria-kriteria kewarasan.

Persoalannya, siapakah sebenarnya yang berhak menyusun kriteria-kriteria kegilaan dan kewarasan, dan dengan demikian berhak memutuskan seseorang sebagai orang gila dan lainnya sebagai orang waras? Siapakah si tukang stempel itu, yang mencap stempel waras pada seseorang, dan mencap stempel gila pada lainnya?

Di dunia dimana orang-orang yang mengaku waras lebih dominan, maka siapa pun yang bertingkah laku diluar kriteria kewarasan yang sudah menjadi kesepakatan, akan dengan mudah dicap sebagai orang gila. Dan dunia kita sekarang ini, tampaknya, adalah dunia seperti itu.

Tetapi andaikata ada sebuah dunia di mana orang-orang yang kita anggap gila adalah pihak yang dominan, pihak yang berkuasa penuh. Tentunya siapa pun yang dianggap bertingkah laku waras (menurut anggapan kita di dunia kita ini), akan di cap sebagai orang gila di dunia seperti itu, bukan?

Kalau soalnya jadi begini, lalu siapakah sebenarnya orang gila dan siapa yang benar-benar waras?

Bingung ya? Saya juga bingung koq hehehhehehehehe…….

Chuang 210802

Orang Yang Berbahagia

January 17th, 2006 by chuang

Apakah dapat disebut egois bila dalam setiap doa kita, kita mengharapkan kebahagiaan untuk diri kita sendiri?

Seorang teman dalam satu kesempatan menvonis saya sebagai orang yang egois, karena ketika ia bertanya kepada saya,”Seandainya kamu diberi kesempatan untuk mengajukan permintaan, apakah yang akan kamu mintakan?” Saya menjawab,”Saya menginginkan kebahagiaan.”

Apa salahnya mengharapkan kebahagiaan untuk diri kita sendiri?

Saya percaya bahwa setiap orang yang berbahagia adalah pribadi-pribadi yang elok, yang bijak dan hidup dalam kebajikan. Tak akan pernah ada seorang yang berbahagia, menjadi si trouble maker, tukang rusuh yang menyebalkan. Sebab ia sendiri adalah orang yang berbahagia, maka ia akan berkecenderungan untuk memancarkan kebahagiaannya itu kepada orang-orang disekitarnya, kepada setiap orang yang mengenalnya, melalui setiap pikiran, perbuatan dan perkataannya. Pendek kata, ialah yang dapat kita sebut sebagai “ yang membawa kebahagiaan bagi setiap makhluk.”

Sebaliknya si tukang rusuh, tukang buat masalah dan sejenis itu, umumnya dapat dipastikan adalah orang-orang yang tak berbahagia. Dikarenakan ia sendiri pada dasarnya tak berbahagia, ia lalu memancarkan ketidakbahagiaannya itu dengan membuat orang lain juga tak bahagia: membuat rusuh, menciptakan berbagai masalah bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain.

Chuang 220202