Bersamamu

December 15th, 2006 by chuang
  • bersamamu kita tempuh
  • jalan yang melingkar ini
  • penuh jurang yang mengangga, curam menanjak
  • dan kerikil-kerikilnya suka sekali menggigiti telapak kakiku
  • bersamamu kita tempuh
  • jalan yang tiada berujung ini
  • berlayar di sungai air mata, berkumbang di telaga darah
  • mendaki gunung tulang belulang
  • untuk akhirnya tersesat di rimba kesengsaraan
  • bersamamu aku lelah
  • menjadi sisifus yang mengangkat batu menuju puncak
  • gunung hanya untuk digulirkan kembali
  • bersamamu, wahai kegelapan hati
  • aku tiada damai
  • chuang 090403

Para Pengembara

December 11th, 2006 by chuang

di kerindangan yang menyejukkan

kumasuki labirin-labirin

waktu menuju masa yang tak berhingga

kutemui wajah-wajah

kujelajahi negeri-negeri

peristiwa-peristiwa dan segalanya

yang tampak tak asing lagi

aku pernah berada

di sini dan di sana

kau dan aku

kita pernah saling berbagi kehidupan

bersua dan berpisah

dalam lingkaran rindu dendam, benci cinta

samsara

sungai air mata dan gunung tulang belulang

sukaria yang membahana dan dukacita yang menyayat

terombang-ambing oleh empat angin duniawi

oh, betapa telah lama kita mengembara

dalam lingkaran yang tak berujung ini

kita adalah para pengembara

yang sesungguhnya tak pernah menjadi asing

satu dengan lainnya

Chuang 111206

Hidup yang Serba Instan

November 26th, 2006 by chuang

Di koran-koran, di televisi, di radio-radio, sungguh mudah sekali untuk menemukan berita-berita tentang bagaimana ketidaksabaran manusia-manusia modern telah membuat persoalan sepele menjadi berat.

Ada kejadian tentang bagaimana seorang pengendara motor menjadi begitu tidak sabar terhadap pengemudi mobil di depannya dan kemudian menganiaya pengemudi tersebut hanya karena sang pengemudi begitu lambat bereaksi ketika lampu hijau menyala. Ada cerita tentang seseorang yang menjadi korban penipuan dukun pengganda uang hanya karena orang itu tidak sabar untuk segera menjadi kaya. Ada banyak cerita tentang ketidaksabaran yang membawa sengsara.

Bila lalu kita coba menelusuri dimanakah hulu dari segala ketidaksabaran itu berasal, mungkin salah satunya adalah kecenderungan serba instan yang melanda kehidupan kita selama ini.

Kecenderungan serba instan yang memangkas habis kemampuan untuk bersabar ini nampak jelas melalui iklan-iklan di tv, di Koran-koran, di radio dan juga melalui kemajuan teknologi yang semua itu berlomba-lomba menawarkan solusi serba instan kepada kita.

Para produsen minuman menawarkan minuman serba instan dan tidak lupa—tentu saja—diklaim tetap alami. Para produsen obat-obatan menawarkan obat flu, obat sakit kepala, obat batuk yang katanya mampu menyembuhkan penyakit seketika di minum langsung bles ewes..ewes..ilang penyakitnya. Para Paranormal di Koran-koran dan tabloid kuning, dengan penuh percaya diri menawarkan solusi serba instan terhadap semua masalah dunia, seakan-akan tiada masalah yang tidak dapat mereka tangani: mengatasi lemah syahwat, cinta di tolak dukun bicara, memisahkan suami/istri dari WIL/PIL, jimat kekebalan, jimat penglaris, jimat keperkasaan, pelet mani gajah, susuk bertuah, mengatasi segala masalah keluarga anda..dll

Begitu merasuknya kecenderungan serba instan ini ke dalam setiap sel-sel otak kita, ke dalam setiap pori-pori kesadaran kita hingga membuat kita tanpa sadar mulai menyepelekan proses, memandang remeh tahapan-tahapan yang harus kita lalui dalam kehidupan ini. Kita mulai terbiasa untuk menjadi tidak sabar, sebab kesabaran yang kita miliki tak pernah terasah dalam kondisi serba instan ini.

Chuang 200701

Renungan

November 25th, 2006 by chuang

Renungan Sebelum Makan

Semoga semua makhluk
Di mana pun berada
Selalu memiliki
Makanan dan minuman yang layak
Untuk memenuhi kebutuhan mereka
Seperti yang juga aku miliki

Semoga mereka
Mendapatkan manfaat dari
Makanan dan minuman tersebut
Demi kebaikan dan kebahagiaan mereka
Seperti yang juga aku dapatkan

Semoga semua makhluk berbahagia

Renungan Sebelum Tidur

Semoga semua makhluk
Di mana pun berada
Selalu memiliki
Sarana yang layak untuk beristirahat
Untuk melepaskan lelah dan memulihkan stamina mereka
Seperti yang juga aku miliki

Semoga mereka
Mendapatkan manfaat dari
Sarana tersebut
Demi kebaikan dan kebahagiaan mereka
Seperti yang juga aku dapatkan

Semoga semua makhluk berbahagia

Chuang 251106

Anatta dan Sakit Gigi

August 31st, 2006 by chuang

Salah satu ajaran Buddha yang paling sulit diterima dan dipahami, baik oleh mereka yang bukan Buddhis maupun bagi kalangan Buddhis sendiri, adalah ajaran mengenai Tiada Inti Diri, atau yang dikenal dengan istilah: Anatta. Bagi sebagian orang yang tak mengerti, ajaran ini kadangkala bahkan disalahtafsirkan sebagai bentuk penolakan Buddha terhadap eksistensi.

Padahal, tentu saja, Buddha tidak menolak keberadaan. Yang ditolak-Nya adalah kepercayaan bahwa ada sesuatu yang tetap, atau ajeg, atau kekal dalam setiap bentuk keberadaan.

Mari kita ambil pengalaman saya menderita sakit gigi sebagai sebuah ilustrasi.

Ketika saya menderita sakit gigi yang parah, saya hampir tidak bisa lagi menikmati makanan apa pun, terutama makanan-makanan yang cukup keras. Rasanya, ketika mengunyah makanan tersebut, tak peduli makanan apa pun, semua terasa bagaikan beling yang mengirim rasa sakit yang hampir tak tertahankan.

Pada saat-saat seperti itu, saya merenungkan: dimanakah rasa enak dari makanan itu? Jika rasa enak itu sungguh-sungguh ada, dan jika dia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari makanan yang saya makan, maka tak peduli saya sedang sakit gigi atau apa pun, saya seharusnya tetap dapat menikmati kelezatan setiap makanan yang saya santap.

Nyatanya, apa yang kita sebut sebagai rasa enak adalah sebuah konsep yang sangat bergantung pada kondisi-kondisi dan perpaduan dari unsur-unsur tertentu. Rasa enak dari makanan, adalah kondisi saat gigi dan indera perasa kita sedang dalam keadaan sehat ditambah dengan komposisi bumbu-bumbu yang tepat, cara memasak yang benar dan bahan-bahan makanan yang berkualitas.

Sebaliknya, ketka kita sedang sakit gigi, atau lidah terasa bebal, atau bumbu-bumbu dan cara memasaknya tak benar, atau bahan makanan yang tidak baik, maka tidak ada rasa enak dalam makanan yang dapat kita temukan.

Chuang 310806

Hal Yang Terpenting

August 31st, 2006 by chuang

Ketika aku masih bayi, sebagai makhluk spiritual yang tak membutuhkan banyak materi duniawi, bagiku yang terpenting adalah kasih dari bunda. Dan saat aku mendapatkannya melalui dekapan dan buaian, juga dari air susunya sebagai perwujudan fisik dari cinta kasihnya, kebutuhanku sudah terpenuhi dengan sempurna.

Menginjak besar, sebagai anak kecil yang senang menjelajah dan bereksperimen, yang terpenting bagiku adalah segala macam mainan dan ruang seluas-luasnya untuk berpetualang.

Di saat musim Pancaroba menghampiri jalur hidupku, aku mulai merasakan suatu kebutuhan untuk berekspresi dan mencari pengakuan dari lingkungan pergaulanku. Karena itu, yang terpenting bagiku adalah teman-temanku.

Kini, ketika usia semakin tua, saat mataku semakin terbuka lebar dan wawasan diperluas oleh buku-buku bacaan dan perenungan, aku mulai melihat kehidupan sebagai sebuah lingkaran tak terputus dari kesengsaraan. Aku mulai menyadari bahwa, seberapa tinggi pun pencapaian duniawiku di dunia ini, jika aku melalaikan tugas utamaku untuk melepaskan diri dari lingkaran Samsara ini, maka aku tak akan pernah menggapai hal terpenting yang seharusnya aku capai: Pembebasan Sejati.

Chuang 040706

Mencintai Buddha, Mencintai Pepohonan

August 31st, 2006 by chuang

Pohon adalah simbol kehidupan, di mana adanya maka dapat dipastikan di sana ada kehidupan yang bernaung dibawahnya. Dan terutama bagi saya, ia adalah benda hidup yang menakjubkan. Ia bisa tumbuh setinggi rumah berlantai tiga, dengan batang utama besar dan kuat, dengan dahan dan ranting-ranting yang menjulang tinggi dan akar-akarnya menghujam dalam-dalam, hanya dari sebutir biji seujung kuku yang tampak begitu sepele. Di kerindangan daun-daunnya adalah tempat paling sejuk dan nyaman untuk beristirahat dari sengatan matahari, atau dari terpaan angin kemarau

Pohon adalah benda hidup yang patut dihormati dan dilestarikan keberadaannya, Seperti yang telah ditunjukkan oleh guru agung kita. Sebab dengan melestarikan dan menghormati pepohonan, berarti kita telah melestarikan dan menghormati kehidupan di planet ini.

Pohon adalah benda hidup yang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari ajaran guru agung kita. Ia hidup dalam banyak kisah, sutta, perumpaman dan sebagai simbol pemujaan. Seperti misalnya yang dapat kita ketahui dari kisah kehidupan Buddha.

Sebagai seorang umat Buddha, saya rasa tidak ada di antara kita yang tak mengenal riwayat hidup dari guru junjungan kita. Jika tak mengetahui secara lengkap mengenai-Nya, mnimal kita pasti tahu cerita-cerita mengenai kelahiran-Nya, dan juga pencapaian penerangan sempurna-Nya, atau pun bagaimana Beliau pada akhirnya mencapai pelepasan sempurna dari samsara ini.

Salah satu hal paling menarik yang saya temukan dalam kisah mengenai riwayat hidup Buddha, adalah kenyataan bahwa Beliau yang kita junjung sebagai guru tiada banding selama hidup-Nya tak pernah jauh dari pepohonan.

Kita mengingat kembali ketika Pangeran Sidharta lahir, saat itu Ibunda-Nya sedang berada di Taman Lumbini yang indah, yang pada saat melahirkan makhluk yang luar biasa ini, Beliau berdiri dan berpegangan pada salah satu dahan pohon di taman itu. Dari cerita tersebut, saya mengambil kesimpulan pangeran pastilah lahir dibawah pohon yang dahannya dipegang oleh Ibunda-Nya.

Dan tentunya kita tak kan pernah lupa akan kisah pencapaian tertinggi dari seorang manusia, saat ketika pangeran mencapai pencerahan sempurna di bawah pohon Bodhi. Selama seminggu penuh sesudah itu Beliau lalu menunjukkan rasa hormat-Nya kepada pohon yang telah berjasa menaungi Beliau selama masa pencarian pencerahan-Nya.

Lalu setelah selama kurang lebih 45 tahun Beliau mengembara di antara hutan-hutan dan taman-taman kota, membabarkan ajaran-Nya demi kebaikan bagi segenap makhluk, pada akhirnya Beliau merealisasikan Nibbana sempurna dibawah naungan dua pohon sala kembar, di Kusinara

Dari riwayat singkat tersebut, terasa sekali bahwa Buddha sepanjang hayat-Nya bukan saja tak pernah lepas dari dunia pepohonan, tetapi Beliau berada sangat dekat dan akrab dengan dunia itu.

Sebagai akibat dari kedekatan dan keakraban itu, kita tahu dan kita rasakan dalam ajaran-Nya terkandung rasa penghormatan yang at tinggi kepada pepohonan khususnya, dan kepada segenap makhluk hidup umumnya. Dari sini tak terelak lagi kenyataan, bahwa dalam Buddhisme, persoalan melestarikan lingkungan hidup adalah bagian integral dari kebajikan yang utama, salah satu komponen dari jalan menuju kebebasan sejati.

Dan dengan demikian, bila sebagai umat Buddha kita ingin menghormati Buddha, berarti seharusnya kita pun juga menghomarti pepohonan. Bila sebagai umat ingin mencintai-Nya, berarti seharusnya kita pun juga mencintai pepohonan.

Chuang 230904
http://chuang.blogs.friendster.com
Pernah dimuat di Buletin Maya Dharma Mangala

Senyum Dong! Dunia Belum Kiamat.Lho

July 3rd, 2006 by chuang

Salah satu kecenderungan kita yang cukup merugikan, terutama bila dikaitkan dengan kemampuan untuk keluar dari depresi dan meraih kebahagiaan hidup, adalah sikap kita yang cenderung mendramatisir setiap kemalangan atau penderitaan yang kita rasakan.

Dalam kesaharian, ketika kita mengalami suatu peristiwa buruk, kita merasa bahwa kitalah orang yang paling sial sedunia. Seakan-akan tidak ada persoalan lain yang lebih berat dan menyedihkan ketimbang persoalan yang kita hadapi.

Seorang anak ABG yang putus cinta merasa sangat sedih, nelangsa, dan demikian sedihnya dia hingga dia merasa dunia sudah kiamat dan kehidupannya tiada arti lagi tanpa pujaan hatinya. Dalam kasus yang ekstrem, dan hal ini tidak jarang sungguh-sungguh terjadi, kumpulan orang-orang yang patah hati ini sampai tega memutuskan kontrak hidupnya sendiri di dunia fana ini.

Ketika kesebelasan nasional Inggris kalah adu penalti dari Portugal di kejuaraan Piala Dunia yang masih berlangsung, salah satu koran di Inggris menulis judul besar-besar di halaman mukanya: The End of The World. Demikian juga, ada berita tentang seorang wanita yang jatuh pingsan ketika tahu tim Samba harus segera pulang kampung, atau seorang pria di Bangladesh yang mati mendadak karena kaget tim kesayangannya harus menyerah kalah.

Dalam rangka menerapkan seni hidup bahagia, dan supaya kita tak berlama-lama berkumbang dalam lumpur kesedihan yang sia-sia, kita perlu berpikir positif dalam memandang setiap peristiwa buruk yang kita alami. Alih-alih merasa dunia sudah kiamat dan kehidupan kita harus berakhir menyedihkan, kita bisa memilih untuk tetap menegakkan kepala dan menghiasi wajah kita dengan seulas senyum: Senyum Dong! Dunia Belum Kiamat, lho. Mereka yang memilih berpikir positif kadang memang terkesan tidak realistik, juga bukan berarti dengan berpikir positif masalah-masalah yang mereka hadapi secara sim salabim tuntas seketika. Persoalan-persoalan tetap saja memerlukan solusi-solusinya, tetapi sementara mereka telah berusaha mencari solusinya dan belum berhasil, mereka akan menunggu dengan tenang dan tidak cemas. Bagi orang-orang seperti ini, masalah bukanlah masalah jika tidak ada solusinya. Dan mengapa harus mencemaskan suatu masalah jika kita tahu bahwa masalah tersebut belum ada solusinya? Juga sebaliknya, mengapa harus cemas jika kita tahu bahwa masalah itu bisa dipecahkan?

Karena susah itu tiada gunanya.

Chuang 030706

Orang Utan, Orang Desa dan Orang Kota

July 3rd, 2006 by chuang

Kawan, pernahkah engkau pergi ke pusat-pusat perbelanjaan, ke mal-mal dan lihatah betapa besar, penuh barang-barang dan manusia di sana? Tiada hari yang tiada ramai, dan tiada hari yang tiada memerlukan segala macam kebutuhan. Pernahkah engkau pikirkan, mengapa kita manusia modern ini merasa memerlukan sangat banyak kebutuhan? Pernahkah engkau bandingkan kehidupan kita (orang kota) yang begitu banyak memiliki kebutuhan, dengan kehidupan orang-orang desa yang sederhana, yang tak pernah terlalu sibuk untuk menikmati mekarnya mawar, atau mencium wanginya bunga kopi yang sedang merekah, atau wangi tanah kemarau yang tersiram hujan disenja hari?

Tampak jelas sekali dari begitu besarnya pusat-pusat perbelanjaan, dari begitu banyaknya barang-barang yang diperjualbelikan, orang-orang kota seperti kita ini seakan-akan tiada habis-habisnya memiliki kebutuhan. Dari kebutuhan dasar berupa makan-minum, pakaian dan tempat tinggal, kita beranjak menuju kebutuhan-kebutuhan lain semacam hiburan (kehidupan kota membuat kita stress), perawatan tubuh (polusi kota menyebabkan tubuh kita mudah menua dan mudah sakit) pendidikan (persaingan yang ketat cuma menyisakan mereka yang kuat), aksesoris (penampilan luar adalah nilai utama, soal mutu bisa direkayasa), transportasi, komunikasi..dsb.

Kawan, kita sering melihat di kota mana pun, selalu ada kesibukan yang luar biasa. Lalu lintas macet karena banyaknya mobil, meskipun jalan raya sudah di buat sampai bertingkat-tingkat dan selebar-lebarnya. Pabrik-pabrik beroperasi sepanjang hari, menghasilkan barang-barang yang kita anggap sebagai kebutuhan. Orang-orang hilir mudik, dan semuanya tampak sibuk.

Mengapa kita demikian sibuk, kawan? Apa yang kita cari? Harta benda? Uang, uang, uang? Gengsi dan kehormatan kelas? Kenikmatan hidup atawa hedonisme? Bukankah untuk mencapai tujuan sejati manusia—kebahagiaan—kita tidak butuh tetek bengek sebanyak itu? Bukankah semua yang kita anggap sebagai kebutuhan, sesungguhnya cuma prioritas terendah dari kehidupan yang sebenarnya?

Kawan, satu hari saya melihat seekor orang utan sedang duduk santai sambil makan sebuah pisang. Terlihat betapa sederhananya kehidupannya. Dia tak membutuhkan apa pun selain makan, atap untuk berteduh, dan rasa aman bagi diri dan kelompoknya untuk mencari makan, beristirahat, dan berkembang biak.

Pernahkan engkau melihat seekor orang utan yang memerlukan sebuah mobil, rumah berikut kolam renang ukuran olympic, pergi ke salon perawatan? Atau pernahkah engkau melihat seekor orang utan yang memerlukan komputer dan akses internet, atau segala macam tetek bengek benda-benda yang kita anggap sebagai kebutuhan padahal sebenarnya tidak?

Kawan, jangan salah sangka. Saya tidak sedang mengajak anda untuk menjadi orang utan, hidup cuma untuk makan dan berkembang biak. Saya cuma ingin kita coba merenung sejenak, mengapa dari hari ke hari kita selalu sibuk mencari nafkah, selalu tampak tergesa-gesa mengejar kesempatan, dan selalu tiada habis-habisnya memiliki kebutuhan-kebutuhan yang tiba-tiba muncul untuk dipenuhi?

Renungkanlah, mengapa kita semakin menjadi budak dari rutinitas kita sendiri. Pagi bangun bersiap-siap untuk kerja, sarapan dengan terburu-buru karena takut macet di jalan, kerja keras demi meningkatkan prestasi dan ujung-ujungnya demi uang yang lebih banyak lagi….lebih banyak lagi…dan lebih banyak lagi, untuk memenuhi segala macam kebutuhan yang muncul dengan tiba-tiba, merengek-rengek minta dipenuhi. Bukankah keadaan seperti ini tiada berbeda dengan kondisi seorang pecandu putauw?

Renungkanlah, mengapa dari hari ke hari kita semakin menjadi budak dari keinginan kita sendiri. Didorong oleh segala macam godaan duniawi, kebutuhan semu yang diciptakan oleh iklan-iklan yang menampilkan gaya hidup semu oleh bintang-bintang yang juga semu, betapa makin kaburnya pengertian kita akan bedanya kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan kawan, ada batasnya. Tetapi keinginan, sayangnya, sampai saat ini belum ditemukan batasnya.

Kita bukan robot kawan, dan kita bukan budak siapa pun. Jangan biarkan diri kita diperobot dan diperbudak oleh sesatnya nilai-nilai materialisme dan hedonisme. Jangan biarkan remote control diri kita berada di tangan tuan rutinitas, tuan materialisme dan nyonya hedonisme. Mari kita bentengi diri kita dengan kebijaksanaan untuk dapat membedakan antara keinginan dan kebutuhan.

Seperti kata Mahatma Gandhi, "High thinking, Plain living."

Chuang 130501

Hidup yang Serba Instan

July 3rd, 2006 by chuang

Di koran-koran, di televisi, di radio-radio, sungguh mudah sekali untuk menemukan berita-berita tentang bagaimana ketidaksabaran manusia-manusia modern telah membuat persoalan sepele menjadi berat.

Ada kejadian tentang bagaimana seorang pengendara motor menjadi begitu tidak sabar terhadap pengemudi mobil di depannya dan kemudian menganiaya pengemudi tersebut hanya karena sang pengemudi begitu lambat bereaksi ketika lampu hijau menyala. Ada cerita tentang seseorang yang menjadi korban penipuan dukun pengganda uang hanya karena orang itu tidak sabar untuk segera menjadi kaya. Ada banyak cerita tentang ketidaksabaran yang membawa sengsara.

Bila lalu kita coba menelusuri dimanakah hulu dari segala ketidaksabaran itu berasal, mungkin salah satunya adalah kecenderungan serba instan yang melanda kehidupan kita selama ini.

Kecenderungan serba instan yang memangkas habis kemampuan untuk bersabar ini nampak jelas melalui iklan-iklan di tv, di Koran-koran, di radio dan juga melalui kemajuan teknologi yang semua itu berlomba-lomba menawarkan solusi serba instan kepada kita.

Para produsen minuman menawarkan minuman serba instan dan tidak lupa—tentu saja—diklaim tetap alami. Para produsen obat-obatan menawarkan obat flu, obat sakit kepala, obat batuk yang katanya mampu menyembuhkan penyakit seketika di minum langsung bles ewes..ewes..ilang penyakitnya. Para Paranormal di Koran-koran dan tabloid kuning, dengan penuh percaya diri menawarkan solusi serba instan terhadap semua masalah dunia, seakan-akan tiada masalah yang tidak dapat mereka tangani: mengatasi lemah syahwat, cinta di tolak dukun bicara, memisahkan suami/istri dari WIL/PIL, jimat kekebalan, jimat penglaris, jimat keperkasaan, pelet mani gajah, susuk bertuah, mengatasi segala masalah keluarga anda..dll

Begitu merasuknya kecenderungan serba instan ini ke dalam setiap sel-sel otak kita, ke dalam setiap pori-pori kesadaran kita hingga membuat kita tanpa sadar mulai menyepelekan proses, memandang remeh tahapan-tahapan yang harus kita lalui dalam kehidupan ini. Kita mulai terbiasa untuk menjadi tidak sabar, sebab kesabaran yang kita miliki tak pernah terasah dalam kondisi serba instan ini.

Chuang 200701