Mana Penjahatnya?

Keponakan saya yang berumur empat tahun, karena belum bisa membaca, maka setiap kali menonton film kartun yang tak disulihsuarakan dari bahasa aslinya dia selalu bertanya-tanya kepada saya mengenai jalan cerita dari film tersebut. Pertanyaannya berkisar antara, "Sanfu (panggilan paman kakak dari ayah), dia lagi ngapain tuh?" atau "Kenapa orang itu?" , dan yang paling saya ingat adalah, "Yang itu jahat ya?" atau "Mana penjahatnya?"

Tanpa kita sadari, kita sudah terbiasa dengan pola dualitas dunia yang menggerakkan kehidupan kita. Ada siang dan malam, pasang dan surut, baik dan jahat. Ada tokoh protagonis dan ada lawannya, antagonis. Bila dalam sebuah cerita atau film hanya ada tokoh protagonis tanpa lawannya, maka kebanyakan dari kita akan menganggap film atau cerita itu kurang menarik atau malah tidak menarik, tidak realisitk.

Padahal, andaikata dunia kita hanya berisikan hal-hal yang baik-baik saja, hanya ada orang baik tapi tidak ada penjahatnya, hanya ada cuaca yang baik dan bersahabat dan tidak ada badai dan segala macam yang menakutkan itu, maka tidakkah kehidupan kita menjadi jauh lebih menyenangkan dan bahagia? Mungkin benar menjadi tidak seseru kebut-kebutan antara polisi melawan penjahat, atau kejar-kejaran Tom yang ingin memangsa Jerry. Tetapi saya yakin bahwa, andaikata dunia baik-baik seperti itu sungguh-sungguh ada, maka dunia itu tetap saja menarik dan memiliki unsur ke-heboh-annya sendiri yang khas, yang barangkali tidak sama dengan dunia dualitas kita kini, tetapi tetap saja menarik dan jauh lebih membahagiakan daripada yang kita kenal sekarang ini.

Dalam sebuah film para penjahat mungkin berguna untuk memancing ketegangan, tetapi dalam kehidupan nyata, andaikata boleh memilih, saya akan lebih suka hidup di sebuah dunia di mana setiap orang dapat bersikap baik dan tulus, penuh kasih kepada setiap makhluk.

Chuang 240407

One Response to “Mana Penjahatnya?”

  1. Chindy Says:

    Chuang, tulus..satu kata ini yang dalam perjalanan saya mencari dan mencari perhentian, saya tetapkan hati pada tulus inilah saya ingin berhenti. tulus akan menuntun kita melebur pada kemurnian. tiap masuk dalam panggung nyata hidup, sungguh tidak mudah memakai tulus, tidak mudah menjaga interaksi panca skandha ini tetap dalam kemurnian..saya selalu merasa kikuk Chuang..mungkin memang butuh waktu, dan memang tulus yang saya impikan butuh ruang dan waktu untuk mengujinya..mengujinya dalam tiap detak pikiran, rasa dan lakon saya…go! go! go!
    saya berharap saya mampu memulihkan getar kemurnian dalam tiap balon hidup yang saya tiupkan. seperti saing ini, ketika pulang dari dinas, saya melihat segerombolan bebek lepas mandi di kali, mengibas-ngibaskan bulunya, sebagian masih bermain, berlima, mencelupkan kepalanya di air, hampir berbarengan hingga terlihat seperti sedang menari..sungguh, saya turut merasakan gegap riang canda mereka…inilah salah satu wajah kemurnian yang saya kejar sobat…

Leave a Reply