Rasa Syukur
http://trioratana.blogspot.com
Apa yang tersirat dalam benakmu ketika engkau mendengar kata Syukur? Klise? Kata yang sederhana? Sesuatu yang tak menarik?
Dulu kupikir aku tahu maknanya dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan mudah, persis semulus aku mengucapkannya tanpa ragu. Tetapi ternyata rasa syukur adalah sesuatu yang jauh melampaui apa yang aku kira, hal yang bermakna amat dalam, dan bahkan mungkin adalah kunci utama bagi kebahagiaan hidup kita.
Rasa syukurlah yang menenangkan jiwa kita, yang pandai menjinakkan kegelisahan kita. Ialah yang tahu bagaimana menginjak rem ambisi-ambisi kita, keinginan-keinginan yang tak pernah putus datang silih berganti.
Rasa syukurlah yang menjadikan kita rendah hati dan bijak, tahu mengerti keadaan dan bersimpati kepada mereka yang tak cukup beruntung.
Dan dalam intensitasnya yang jauh lebih tinggi dan dalam, kepuasaan hati yang amat sangat mendalam itulah yang disebut–dalam alam spiritual Buddhis– sebagai jhana. Sebuah keadaan dari kedamaian sejati, saat mana seseorang tak lagi memerlukan dan menginginkan apa pun karena ia telah memperoleh yang lebih tinggi dan murni.
Kelak, cepat atau lambat, aku ingin mencapainya juga dan lebih jauh lagi: mengakhiri putaran roda samsara ini untuk seterusnya.
Chuang 270207
August 27th, 2007 at 8:33 am
Hampir setiap pagi saya melihat seorang kakek yg bersemangat melakukan pekerjaannya menginjak kaleng bekas minuman. Dan setiap pagi saya jadi tersenyum dan teringat kata-kata: “every day is a gift from GOD, the way you live it is ur gift to GOD”