Archive for March, 2007

Para Burung Tetanggaku

Friday, March 2nd, 2007

Persis di samping rumahku ada sebuah tanah kosong yang sudah lama tak berpenghuni. Dulunya di sebidang tanah itu terdapat sebuah pub and bar yang, khas-nya tempat seperti itu, bising dan ramai. Tapi kini tanah itu kosong dirambatin oleh pepohonan liar yang berpenghuni para burung. Maka, jadilah di samping rumahku berdiri sebuah republik burung dengan pelbagai macam burung sebagai penduduknya.

Hampir sepanjang hari para burung itu berkicau, teristimewa di pagi hari saat mereka kompak menyambut datangnya mentari dan sebuah hari baru, sebuah kesempatan baru, kelahiran baru untuk menjadi lebih baik dan bijak.

Aku selalu senang mendengar kicauan mereka, dan tak jarang tubuhku bergelidik karena aliran kebahagiaan yang menjalar dari rasa syukur dan terima kasih yang kutujukan kepada para penyanyi alam itu.

Aku tahu dan sadar diri bahwa para burung tidak berkicau semata-mata karena mereka ingin aku dengar dan puji. Bahkan mungkin mereka tak peduli apakah ada yang mendengar kicauan mereka atau tidak, apakah ada juri yang memberi nilai atau mengeliminasikan mereka. Mereka akan tetap bernyanyi dengan sepenuh hati tanpa mengharapkan tepik sorak dari pemuja mana pun. Karena mereka suka bernyanyi dan bahagia dengan melakukannya, tanpa pamrih apa pun.

Toh begitu, setiap kali mendengar nyanyian mereka, tak bisa tidak aku akan selalu berkata dalam hati: terima kasih para burung, atas kicauanmu yang menyemarakkan pagiku, yang mengusir lelah siangku, dan yang menambah kesegaran soreku. Kalianlah tetangga terbaikku. Kicauan kalian selalu mengingatkan aku untuk bersyukur, bahwa setumpul apa pun adanya telingaku, tetaplah aku masih dapat menikmati keindahan orkestra yang kalian mainkan sepanjang hari.

Chuang 030307

http://trioratana.blogspot.com

 

Rasa Syukur

Friday, March 2nd, 2007

http://trioratana.blogspot.com

Apa yang tersirat dalam benakmu ketika engkau mendengar kata Syukur? Klise? Kata yang sederhana? Sesuatu yang tak menarik?

Dulu kupikir aku tahu maknanya dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan mudah, persis semulus aku mengucapkannya tanpa ragu. Tetapi ternyata rasa syukur adalah sesuatu yang jauh melampaui apa yang aku kira, hal yang bermakna amat dalam, dan bahkan mungkin adalah kunci utama bagi kebahagiaan hidup kita.

Rasa syukurlah yang menenangkan jiwa kita, yang pandai menjinakkan kegelisahan kita. Ialah yang tahu bagaimana menginjak rem ambisi-ambisi kita, keinginan-keinginan yang tak pernah putus datang silih berganti.

Rasa syukurlah yang menjadikan kita rendah hati dan bijak, tahu mengerti keadaan dan bersimpati kepada mereka yang tak cukup beruntung.

Dan dalam intensitasnya yang jauh lebih tinggi dan dalam, kepuasaan hati yang amat sangat mendalam itulah yang disebut–dalam alam spiritual Buddhis– sebagai jhana. Sebuah keadaan dari kedamaian sejati, saat mana seseorang tak lagi memerlukan dan menginginkan apa pun karena ia telah memperoleh yang lebih tinggi dan murni.

Kelak, cepat atau lambat, aku ingin mencapainya juga dan lebih jauh lagi: mengakhiri putaran roda samsara ini untuk seterusnya.

Chuang 270207