Anatta dan Sakit Gigi
Thursday, August 31st, 2006Salah satu ajaran Buddha yang paling sulit diterima dan dipahami, baik oleh mereka yang bukan Buddhis maupun bagi kalangan Buddhis sendiri, adalah ajaran mengenai Tiada Inti Diri, atau yang dikenal dengan istilah: Anatta. Bagi sebagian orang yang tak mengerti, ajaran ini kadangkala bahkan disalahtafsirkan sebagai bentuk penolakan Buddha terhadap eksistensi.
Padahal, tentu saja, Buddha tidak menolak keberadaan. Yang ditolak-Nya adalah kepercayaan bahwa ada sesuatu yang tetap, atau ajeg, atau kekal dalam setiap bentuk keberadaan.
Mari kita ambil pengalaman saya menderita sakit gigi sebagai sebuah ilustrasi.
Ketika saya menderita sakit gigi yang parah, saya hampir tidak bisa lagi menikmati makanan apa pun, terutama makanan-makanan yang cukup keras. Rasanya, ketika mengunyah makanan tersebut, tak peduli makanan apa pun, semua terasa bagaikan beling yang mengirim rasa sakit yang hampir tak tertahankan.
Pada saat-saat seperti itu, saya merenungkan: dimanakah rasa enak dari makanan itu? Jika rasa enak itu sungguh-sungguh ada, dan jika dia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari makanan yang saya makan, maka tak peduli saya sedang sakit gigi atau apa pun, saya seharusnya tetap dapat menikmati kelezatan setiap makanan yang saya santap.
Nyatanya, apa yang kita sebut sebagai rasa enak adalah sebuah konsep yang sangat bergantung pada kondisi-kondisi dan perpaduan dari unsur-unsur tertentu. Rasa enak dari makanan, adalah kondisi saat gigi dan indera perasa kita sedang dalam keadaan sehat ditambah dengan komposisi bumbu-bumbu yang tepat, cara memasak yang benar dan bahan-bahan makanan yang berkualitas.
Sebaliknya, ketka kita sedang sakit gigi, atau lidah terasa bebal, atau bumbu-bumbu dan cara memasaknya tak benar, atau bahan makanan yang tidak baik, maka tidak ada rasa enak dalam makanan yang dapat kita temukan.
Chuang 310806