Archive for July, 2006

Senyum Dong! Dunia Belum Kiamat.Lho

Monday, July 3rd, 2006

Salah satu kecenderungan kita yang cukup merugikan, terutama bila dikaitkan dengan kemampuan untuk keluar dari depresi dan meraih kebahagiaan hidup, adalah sikap kita yang cenderung mendramatisir setiap kemalangan atau penderitaan yang kita rasakan.

Dalam kesaharian, ketika kita mengalami suatu peristiwa buruk, kita merasa bahwa kitalah orang yang paling sial sedunia. Seakan-akan tidak ada persoalan lain yang lebih berat dan menyedihkan ketimbang persoalan yang kita hadapi.

Seorang anak ABG yang putus cinta merasa sangat sedih, nelangsa, dan demikian sedihnya dia hingga dia merasa dunia sudah kiamat dan kehidupannya tiada arti lagi tanpa pujaan hatinya. Dalam kasus yang ekstrem, dan hal ini tidak jarang sungguh-sungguh terjadi, kumpulan orang-orang yang patah hati ini sampai tega memutuskan kontrak hidupnya sendiri di dunia fana ini.

Ketika kesebelasan nasional Inggris kalah adu penalti dari Portugal di kejuaraan Piala Dunia yang masih berlangsung, salah satu koran di Inggris menulis judul besar-besar di halaman mukanya: The End of The World. Demikian juga, ada berita tentang seorang wanita yang jatuh pingsan ketika tahu tim Samba harus segera pulang kampung, atau seorang pria di Bangladesh yang mati mendadak karena kaget tim kesayangannya harus menyerah kalah.

Dalam rangka menerapkan seni hidup bahagia, dan supaya kita tak berlama-lama berkumbang dalam lumpur kesedihan yang sia-sia, kita perlu berpikir positif dalam memandang setiap peristiwa buruk yang kita alami. Alih-alih merasa dunia sudah kiamat dan kehidupan kita harus berakhir menyedihkan, kita bisa memilih untuk tetap menegakkan kepala dan menghiasi wajah kita dengan seulas senyum: Senyum Dong! Dunia Belum Kiamat, lho. Mereka yang memilih berpikir positif kadang memang terkesan tidak realistik, juga bukan berarti dengan berpikir positif masalah-masalah yang mereka hadapi secara sim salabim tuntas seketika. Persoalan-persoalan tetap saja memerlukan solusi-solusinya, tetapi sementara mereka telah berusaha mencari solusinya dan belum berhasil, mereka akan menunggu dengan tenang dan tidak cemas. Bagi orang-orang seperti ini, masalah bukanlah masalah jika tidak ada solusinya. Dan mengapa harus mencemaskan suatu masalah jika kita tahu bahwa masalah tersebut belum ada solusinya? Juga sebaliknya, mengapa harus cemas jika kita tahu bahwa masalah itu bisa dipecahkan?

Karena susah itu tiada gunanya.

Chuang 030706

Orang Utan, Orang Desa dan Orang Kota

Monday, July 3rd, 2006

Kawan, pernahkah engkau pergi ke pusat-pusat perbelanjaan, ke mal-mal dan lihatah betapa besar, penuh barang-barang dan manusia di sana? Tiada hari yang tiada ramai, dan tiada hari yang tiada memerlukan segala macam kebutuhan. Pernahkah engkau pikirkan, mengapa kita manusia modern ini merasa memerlukan sangat banyak kebutuhan? Pernahkah engkau bandingkan kehidupan kita (orang kota) yang begitu banyak memiliki kebutuhan, dengan kehidupan orang-orang desa yang sederhana, yang tak pernah terlalu sibuk untuk menikmati mekarnya mawar, atau mencium wanginya bunga kopi yang sedang merekah, atau wangi tanah kemarau yang tersiram hujan disenja hari?

Tampak jelas sekali dari begitu besarnya pusat-pusat perbelanjaan, dari begitu banyaknya barang-barang yang diperjualbelikan, orang-orang kota seperti kita ini seakan-akan tiada habis-habisnya memiliki kebutuhan. Dari kebutuhan dasar berupa makan-minum, pakaian dan tempat tinggal, kita beranjak menuju kebutuhan-kebutuhan lain semacam hiburan (kehidupan kota membuat kita stress), perawatan tubuh (polusi kota menyebabkan tubuh kita mudah menua dan mudah sakit) pendidikan (persaingan yang ketat cuma menyisakan mereka yang kuat), aksesoris (penampilan luar adalah nilai utama, soal mutu bisa direkayasa), transportasi, komunikasi..dsb.

Kawan, kita sering melihat di kota mana pun, selalu ada kesibukan yang luar biasa. Lalu lintas macet karena banyaknya mobil, meskipun jalan raya sudah di buat sampai bertingkat-tingkat dan selebar-lebarnya. Pabrik-pabrik beroperasi sepanjang hari, menghasilkan barang-barang yang kita anggap sebagai kebutuhan. Orang-orang hilir mudik, dan semuanya tampak sibuk.

Mengapa kita demikian sibuk, kawan? Apa yang kita cari? Harta benda? Uang, uang, uang? Gengsi dan kehormatan kelas? Kenikmatan hidup atawa hedonisme? Bukankah untuk mencapai tujuan sejati manusia—kebahagiaan—kita tidak butuh tetek bengek sebanyak itu? Bukankah semua yang kita anggap sebagai kebutuhan, sesungguhnya cuma prioritas terendah dari kehidupan yang sebenarnya?

Kawan, satu hari saya melihat seekor orang utan sedang duduk santai sambil makan sebuah pisang. Terlihat betapa sederhananya kehidupannya. Dia tak membutuhkan apa pun selain makan, atap untuk berteduh, dan rasa aman bagi diri dan kelompoknya untuk mencari makan, beristirahat, dan berkembang biak.

Pernahkan engkau melihat seekor orang utan yang memerlukan sebuah mobil, rumah berikut kolam renang ukuran olympic, pergi ke salon perawatan? Atau pernahkah engkau melihat seekor orang utan yang memerlukan komputer dan akses internet, atau segala macam tetek bengek benda-benda yang kita anggap sebagai kebutuhan padahal sebenarnya tidak?

Kawan, jangan salah sangka. Saya tidak sedang mengajak anda untuk menjadi orang utan, hidup cuma untuk makan dan berkembang biak. Saya cuma ingin kita coba merenung sejenak, mengapa dari hari ke hari kita selalu sibuk mencari nafkah, selalu tampak tergesa-gesa mengejar kesempatan, dan selalu tiada habis-habisnya memiliki kebutuhan-kebutuhan yang tiba-tiba muncul untuk dipenuhi?

Renungkanlah, mengapa kita semakin menjadi budak dari rutinitas kita sendiri. Pagi bangun bersiap-siap untuk kerja, sarapan dengan terburu-buru karena takut macet di jalan, kerja keras demi meningkatkan prestasi dan ujung-ujungnya demi uang yang lebih banyak lagi….lebih banyak lagi…dan lebih banyak lagi, untuk memenuhi segala macam kebutuhan yang muncul dengan tiba-tiba, merengek-rengek minta dipenuhi. Bukankah keadaan seperti ini tiada berbeda dengan kondisi seorang pecandu putauw?

Renungkanlah, mengapa dari hari ke hari kita semakin menjadi budak dari keinginan kita sendiri. Didorong oleh segala macam godaan duniawi, kebutuhan semu yang diciptakan oleh iklan-iklan yang menampilkan gaya hidup semu oleh bintang-bintang yang juga semu, betapa makin kaburnya pengertian kita akan bedanya kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan kawan, ada batasnya. Tetapi keinginan, sayangnya, sampai saat ini belum ditemukan batasnya.

Kita bukan robot kawan, dan kita bukan budak siapa pun. Jangan biarkan diri kita diperobot dan diperbudak oleh sesatnya nilai-nilai materialisme dan hedonisme. Jangan biarkan remote control diri kita berada di tangan tuan rutinitas, tuan materialisme dan nyonya hedonisme. Mari kita bentengi diri kita dengan kebijaksanaan untuk dapat membedakan antara keinginan dan kebutuhan.

Seperti kata Mahatma Gandhi, "High thinking, Plain living."

Chuang 130501

Hidup yang Serba Instan

Monday, July 3rd, 2006

Di koran-koran, di televisi, di radio-radio, sungguh mudah sekali untuk menemukan berita-berita tentang bagaimana ketidaksabaran manusia-manusia modern telah membuat persoalan sepele menjadi berat.

Ada kejadian tentang bagaimana seorang pengendara motor menjadi begitu tidak sabar terhadap pengemudi mobil di depannya dan kemudian menganiaya pengemudi tersebut hanya karena sang pengemudi begitu lambat bereaksi ketika lampu hijau menyala. Ada cerita tentang seseorang yang menjadi korban penipuan dukun pengganda uang hanya karena orang itu tidak sabar untuk segera menjadi kaya. Ada banyak cerita tentang ketidaksabaran yang membawa sengsara.

Bila lalu kita coba menelusuri dimanakah hulu dari segala ketidaksabaran itu berasal, mungkin salah satunya adalah kecenderungan serba instan yang melanda kehidupan kita selama ini.

Kecenderungan serba instan yang memangkas habis kemampuan untuk bersabar ini nampak jelas melalui iklan-iklan di tv, di Koran-koran, di radio dan juga melalui kemajuan teknologi yang semua itu berlomba-lomba menawarkan solusi serba instan kepada kita.

Para produsen minuman menawarkan minuman serba instan dan tidak lupa—tentu saja—diklaim tetap alami. Para produsen obat-obatan menawarkan obat flu, obat sakit kepala, obat batuk yang katanya mampu menyembuhkan penyakit seketika di minum langsung bles ewes..ewes..ilang penyakitnya. Para Paranormal di Koran-koran dan tabloid kuning, dengan penuh percaya diri menawarkan solusi serba instan terhadap semua masalah dunia, seakan-akan tiada masalah yang tidak dapat mereka tangani: mengatasi lemah syahwat, cinta di tolak dukun bicara, memisahkan suami/istri dari WIL/PIL, jimat kekebalan, jimat penglaris, jimat keperkasaan, pelet mani gajah, susuk bertuah, mengatasi segala masalah keluarga anda..dll

Begitu merasuknya kecenderungan serba instan ini ke dalam setiap sel-sel otak kita, ke dalam setiap pori-pori kesadaran kita hingga membuat kita tanpa sadar mulai menyepelekan proses, memandang remeh tahapan-tahapan yang harus kita lalui dalam kehidupan ini. Kita mulai terbiasa untuk menjadi tidak sabar, sebab kesabaran yang kita miliki tak pernah terasah dalam kondisi serba instan ini.

Chuang 200701

Sehat Itu Kaya

Monday, July 3rd, 2006

Ketika kecil dulu, saya senang sekali jika pada suatu hari saya jatuh sakit. Sakit bagi saya adalah kesempatan untuk bermanja-manja, untuk mendapatkan perhatian lebih dari orangtua saya. Dan pada kasus-kasus tertentu, jatuh sakit atau pura-pura sakit bisa menjadi alasan terbaik untuk tidak masuk sekolah.

Tetapi sekarang, saat umur makin tua dan kemanjaan makin berkurang, jatuh sakit justru menjadi suatu kesulitan dan ketidaknyamanan yang menganggu aktivitas saya. Contohnya seperti kejadian baru-baru ini, ketika saya harus menjalani operasi katarak pada mata saya.

Sebelum operasi dilakukan, saya mengira bahwa ini cumalah soal sederhana: begitu katarak itu dihancurkan via operasi dan lensa mata yang baru telah dipasang, maka soalnya jadi beres sudah: penglihatan langsung terang jelas dan saya tidak perlu membatasi kegiatan-kegiatan rutin saya.

Nyatanya tidak sesederhana itu. Operasi ternyata hanyalah satu tahap, tahap berikutnya pasca operasi benar-benar membuat saya merasa repot dan tidak nyaman. Disamping penglihatan ternyata harus mengalami masa kabur selama 2 atau 3 minggu dan mata terasa tidak nyaman, saya pun harus terus makan obat 2 atau 3 kali sehari, meneteskan obat tetes tertentu tiap 2 jam sekali, memakai kacamata gelap sepanjang hari untuk melindungi mata dari sinar, menjaga mata supaya tidak terkena air dan sebagainya. Dan yang paling menyiksa: untuk waktu yang cukup lama, saya tidak bisa membaca buku atau menonton tv.

Selama menjalan prosedur pasca operasi yang menimbulkan ketidaknyamanan dan membatasi kegiatan rutin saya sehari-hari itulah, baru saya sadari betapa berharganya kesehatan itu, dan alangkah beruntungnya orang-orang yang sehat, yang jiwa raganya berfungsi sebagaimana mestinya. Dalam kaitannya dengan kesadaran ini, saya teringat kata-kata dari orang bijak yang berujar, "Manusia seringkali baru menyadari sesuatu itu berharga ketika ia telah kehilangan sesuatu itu."

Tanyalah pada seorang penderita kelainan jantung atau penyempitan pembuluh darah akibat terlalu banyak timbunan kolesterol atau karena kebiasaan merokok. Bagaimanakah penderitaannya karena kelainan atau penyakitnya itu? Bagaimanakah rasanya terkena serangan jantung? Bagaimana ketidaknyamanan hidupnya untuk berpantang makan ini makan itu, untuk tidak boleh berkegiatan ini berkegiatan itu, untuk harus ingat makan sekian pil pada waktu-waktu yang telah ditentukan, untuk terus harus bersiap-siap suatu ketika akan dijemput oleh malaikat maut? Juga, tanyalah pula seperti apa rasa bosannya karena harus terus bertemu makhluk putih-putih berstetoskop? Dan berapa banyak pengorbanan materi (baca: duit) yang harus ia lakukan untuk tetap menjaga hidupnya? Saya yakin dari jawaban-jawabannya, di samping terlontar harapan-harapan akan kesehatannya, kita akan menemukan banyak ungkapan-ungkapan penyesalan dan rasa "iri" terhadap orang-orang yang sehat.

Bagi seorang anak kecil yang masih suka bermanja-manja, terkena flu atau demam boleh saja menjadi kesempatan untuk mendapat perhatian lebih dari orangtuanya, atau sebagai peluang untuk menghindar dari pelajaran matematika di sekolah. Tetapi bagi kebanyakan kita, jatuh sakit justru akan menjadi awal dari kesulitan-kesulitan dan ketidaknyaman yang membatasi kegiatan kita sehari-hari. Dan di masa ketika materialisme berkuasa seperti sekarang ini, jatuh sakit bisa berarti jatuh miskin.

Bahwa sehat itu adalah kekayaan yang utama, bahwa sehat itu berarti kaya (tetapi tidak sebaliknya), mungkin banyak orang pernah mendengar dan setuju dengan pernyataan-pernyataan itu. Tetapi bila kita lihat di seputar kita, tampaknya, kesehatan adalah hal terakhir yang kita sadari untuk disyukuri.

Banyak contoh yang dapat ditulis di sini mengenai wujud dari tiadanya rasa syukur itu. Antara lain, bermuram durja, putus asa, menyia-siakan energi muda dengan merokok, begadang, minum minuman keras, minum pil koplo atau sejenisnya dan sebagainya kegiatan-kegiatan tak berguna yang hanya menyakiti dan merusak diri sendiri.

Jadi, saya percaya, disamping hemat, sehat itu juga pangkal kaya. Karena sehat itu salah satu dari kekayaan yang utama, maka orang yang sehat adalah orang yang kaya. Tetapi tidak sebaliknya: apa gunanya kita punya segudang uang dan emas jika untuk makan coklat sebatang pun kita tak boleh atau tak bisa?

Chuang 151102

Anak Kecil

Monday, July 3rd, 2006

Mengamati tingkah laku keponakan laki-laki saya, sungguh mengasyikkan. Hong-hong, nama anak itu, suka sekali dengan segala benda yang bagi saya sangatlah remeh. Ia misalnya, suka dengan segala macam kardus, karet gelang, tali, sapu, payung dan bahkan juga sandal jepit dekil milik saya.

Ketika ia mengambil sandal jepit dekil saya, saya biasanya akan berteriak kepadanya "Hus, itu eek lho!" Tetapi rupanya ia tidak peduli, atau belum mengerti bahwa sebaik-baiknya sandal, tetapnya kotor karena tempatnya dibawah. Ia hanya tahu sandal jepit dekil itu menarik hatinya.

Saya jadi teringat kembali pada kenangan masa kecil dulu. Ada seorang kakak sepupu saya yang juga suka sekali mengumpulkan benda-benda remeh temeh, dan menganggap benda-benda itu adalah harta kekayaannya. Seperti bungkus rokok (bungkus rokok Marlboro lebih berharga ketimbang bungkus rokok Gudang Garam), kartu-kartu bergambar (kartu bergambar Superman lebih sakti ketimbang kartu bergambar Robin) dan kelereng (kelereng dengan warna-warna tertentu nilainya bisa 2 kali kelereng biasa).

Saya tidak tahu bagaimana persisnya penjelasan tentang mengapa anak-anak kecil suka sekali dengan benda-benda yang bagi orang dewasa sangatlah remeh. Tetapi yang pasti, kita semua tidak berbeda dengan anak-anak kecil itu.

Kita hdiup di dunia ini dan kita tertarik dengan segala macam benda-benda duniawi, yang bagi para suci, dipandang sebagai benda-benda remeh temeh. Kita menyukai kenikmatan hidup yang diberikan oleh materi duniawi, sama seperti anak-anak kecil menyukai benda-benda remeh temeh, dan menganggap hal itu sangat berharga.

Chuang 180801