Hujan

Hari ini adalah hujan pertama yang membasahi Kota Denpasar-Bali, setelah hampir empat bulan kemarau bertahta di sini. Hujan kadang memang membawa kesal di hati. Jika ada sesuatu urusan yang mesti diselesaikan di luar rumah, tentunya akan menjadi cukup merepotkan ketika hujan turun. Dan di kota-kota yang penataannya hanya memenuhi selera kekuasaan, seperti kota Denpasar ini, selalu ada suatu pemandangan yang klise manakala hujan mulai rajin berkunjung: di sini banjir, di sana banjir, di mana-mana banjir melulu. Tetapi tidak jarang hujan justru datang membawa pesan keindahan. Terutama ketika hujan setelah kemarau yang panjang seperti sekarang ini. Pastilah akan tercium wangi tanah kering yang seketika basah, dan juga aroma segar dari dedaunan dan rerumputan yang terbawa bersama kesejukan udara. Atau ketika hujan turun di ujung senja hari, ketika lampu-lampu malam mulai terbangun dari tidurnya, cahayanya terpantul begitu indah di setiap genangan air dan di seluruh badan jalan yang mengkilap seperti baru habis dipel. Hujan juga terkadang membawa lamunan kembali ke masa silam, ketika kecil asyik bermain hujan-hujanan: amboi betapa segarnya menikmati hujan primitif yang murni, yang masih belum dikenal sebagai “hujan asam”. Juga di masa itu, di waktu ketika kepolosan dan imajinasi masih bebas bersuka ria, hujan tampak bagai sebuah peristiwa ketika seorang dewa nun jauh di langit sana sedang menyirami kebunnya. Chuang 011201

Leave a Reply