Archive for April, 2006

Rasa Manis, Rasa Pahit

Saturday, April 29th, 2006

Di dalam buku "Seni Hidup Bahagia" yang memuat perbincangannya dengan Howard C Cutler M.D, seorang Dalai Lama mempunyai keyakinan bahwa pada dasarnya setiap orang itu baik. Demikian juga seorang Anne Frank, anak yahudi yang menjadi korban kekejaman NAZI Jerman. Melalui buku hariannya yang pernah diterbitkan dalam bentuk buku, kita dapat temukan keyakinan yang sama pula.

Dan saya di sini, melalui pengalaman yang saya alami sendiri, juga berkeyakinan yang sama seperti mereka: pada dasarnya setiap orang itu baik adanya.

Saya ingat pengalaman saya sewaktu saya masih sebagai seorang bayi. Ketika sakit, saya harus diberi obat yang pahit sekali. Saya menolak dengan keras sambil meronta-ronta dan menangis. Sangat berbeda halnya ketika sebuah permen loli diberikan kepada saya, dengan sukacita saya menyambut manisnya rasa permen itu.

Siapakah yang mengajarkan seorang bayi menolak rasa pahit dan siapa pula yang memberitahu seorang bayi akan nikmatnya rasa manis?

Saya kira tidak ada, sebab itu semua timbul dari kesadaran kita sendiri yang menginginkan rasa manis ketimbang rasa pahit: menginginkan kebahagiaan ketimbang penderitaan, kebajikan ketimbang kejahatan.

Tetapi bila soalnya seperti itu, pastilah lalu akan muncul pertanyaan di dalam benak kita, sebuah pertanyaan yang muncul pula di benak Howard C Cutler ketika ia berbincang-bincang dengan Dalai Lama mengenai topik ini: tentunya dengan kenyataan bahwa setiap manusia pada dasarnya baik, menginginkan kebahagiaan ketimbang penderitaan, maka seharusnya tindakan-tindakan kita secara otomatis haruslah merupakan tindakan-tindakan yang baik pula, tindakan-tindakan positif yang bersifat memelihara kebahagiaan kita, bukan? Kenyataannya?

Saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Dalai Lama untuk menjawab pertanyaan itu. Kata beliau, persoalannya tidak seserdehana itu. Meskipun benar bahwa ada potensi positif (baik) di dalam diri setiap orang, nyatanya potensi itu harus kita kembangkan dalam pelbagai macam pelatiihan mental—spt meditasi, kontemplasi, mengembangkan kebajikan—untuk mendapatkan hasil yang kita semua cari: kebahagiaan, permen loli kehidupan.

Chuang 220701

Waktu yang Berlalu

Saturday, April 29th, 2006

Dari seluruh fenomena alam yang kita kenal, barangkali waktu adalah salah satu fenomena yang sampai sekarang masih menjadi misteri. Sebab, tak seperti zat yang dapat dilihat karena berwujud dan dapat dirasa atau diraba, waktu tak dapat dilihat karena tak kasat mata, tak dapat dirasa atau diraba, dan tak terdengar.

Waktu bisa jadi sesuatu yang aneh, lucu, atau absurd seperti yang ditulis oleh Alan Lightman dalam novel "Mimpi-Mimpi Einstein". Waktu bisa jadi sesuatu yang mekanistik sebagai hanya patok-patok yang tertancap pada angka-angka tertentu di lingkaran jam, atau pada kerja jadwal kerja, atau pada aliran rutinitas sehari-hari yang membosankan. Waktu pun bisa jadi tak berarti apa-apa bagi seseorang yang tak peduli padanya (dan waktu pun sesungguhnya juga tak pernah peduli padanya juga) Tetapi dari seluruh kemisteriusan yang ditimbulkan oleh waktu, kita mungkin bisa sepakat bahwa waktu itu proses atau perubahan yang menjadikan hari kemarin tinggal kenangan, dan hari ini beranjak tua jadi hari esok yang belum juga pasti wujudnya.

Waktu adalah yang membuat si gendut di dinding ruang tamu atau kamar kita makin hari makin kurus saja, karena lembar-lembar demi lembarnya terus berkurang seiring waktu hingga tanpa terasa dia menjadi kurus dan kita pun bersiap-siap menggantinya dengan si gendut yang baru lagi, yang biasanya datang dengan baju kebesarannya yang berselempang ucapan "Selamat Tahun Baru".

Waktulah yang membuat orang-orang bertambah tua, makin mendekat kepada akhir dari hidup yang ini tetapi awal untuk hidup yang lain. Dan sebagian dari yang bertambah tua itu juga bertambah bijak, tetapi sebagian yang lain bukan hanya bertambah tua, melainkan juga bertambah bodoh.

Saya berharap dan berusaha, seiring dengan waktu yang berlalu, saya akan menjadi tua dengan bijaksana.

Semoga anda pun demikian.

Chuang 171103

Orang-Orang yang Tak Nampak

Saturday, April 29th, 2006

Kehidupan yang kita jalani ini dapat diibaratkan seperti permainan jigsaw puzzle: untuk dapat menyelesaikan gambaran besar diperlukan gabungan potongan-potongan gambar kecil yang saling melengkapi.

Adalah manusiawi sekali di tengah-tengah rutinitas kehidupan sehari-hari, sebagian besar dari kita pastilah tidak pernah berpikir tentang orang-orang tak nampak yang merupakan potongan-potongan gambar yang membentuk kehidupan kita.

Pernahkah terlintas di dalam pikiran kita dari mana asal beras yang kita tanak menjadi nasi? Pernahkah terpikir dari mana asal kemeja yang kita kenakan? Dari mana asal sepatu, sandal, sabun, lauk pauk dan sebagainya itu? Mungkin dengan mudah sebagian dari kita menjawab itu semua berasal dari uang yang kita belanjakan di supermarket dekat rumah.

Tetapi jika mau jujur, jika kita coba menelusuri semua itu kembali ke asalnya, akan kita temukan betapa panjangnya daftar orang-orang tak nampak yang ikut berperan dalam mewujudkan semua itu.

Seperti beras dari sawah yang dikelola petani, petani mengolah sawah dengan bantuan sapi pembajak dan pupuk dari pabrik, dan pabrik berjalan atas kerjasama para karyawannya. Atau seperti kemeja yang berasal dari kain yang dipintal dari benang yang diolah dari kapas yang ditanam petani dan tanah pertiwi menyediakan dirinya sebagai tempat tumbuh kembang untuknya.

Gambaran kehidupan kita terbentuk dari potongan-potongan kecil yang seringkali kita anggap remeh, hingga ia seolah-olah tak nampak ada dan kita berbesar kepala mengangkat dagu tinggi-tinggi karenanya.

Tanpa potongan-potongan kecil itu, tanpa orang-orang tak nampak itu, tak kan ada gambaran kehidupan ini: kita bukan siapa-siapa tanpa mereka.

Chuang 200701

Morrie

Saturday, April 29th, 2006

Morrie sang profesor menderita penyakit ALS atau dikenal luas sebagai penyakit Lou Gehrig, yang bila diibaratkan akan nampak sebagai seorang penyiksa ulung. Si penyiksa ulung ini akan menyiksa korbannya, dengan pertama-tama membuat kaki sang korban lumpuh, kemudian naik sedikit, naik sedikit, naik sedikit, hingga tak ada lagi anggota badan yang tak lumpuh.

Morrie sang profesor bukanlah seorang malaikat, atau seorang arahat (orang suci). Ia hanyalah manusia biasa, dan ia tak malu menjadi manusia biasa: ia menangis ketika tahu bahwa ajalnya akan segera tiba, ia kadang-kadang merasa iri melihat orang-orang sehat.

Tetapi satu hal yang menakjubkan dari seorang Morrie, adalah kemampuannya untuk menjadikan penyakitnya sebagai kesempatan untuk memberi kuliah-kuliah terakhir kepada para sahabatnya, kepada semua orang yang bersimpati kepadanya.

Di dalam bayangan saya, ketika Morrie sang profesor mengajarkan makna hidup melalui apa yang ia alami, ia nampak bagai Buddha ketika membabarkan kebenaran pertama dari empat kesunyataan yang telah Beliau pahami: Hidup adalah dukkha, kematian selalu membayang di setiap jejak langkah kita.

Membaca kisah Morrie sang profesor di dalam buku "Selasa Bersama Morrie", saya merasakan satu kedekatan yang aneh dengannya, seakan-akan Morrie hadir di hadapan saya untuk memberi pelajaran tentang kematian. Mengapa kematian demikian penting untuk dipelajari, adalah suara Morrie yang menjawab,"Begitu kita ingin tahu bagaimana kita akan mati, berarti kita belajar bagaimana kita seharusnya hidup".

Chuang 080601

Hujan

Saturday, April 29th, 2006

Hari ini adalah hujan pertama yang membasahi Kota Denpasar-Bali, setelah hampir empat bulan kemarau bertahta di sini. Hujan kadang memang membawa kesal di hati. Jika ada sesuatu urusan yang mesti diselesaikan di luar rumah, tentunya akan menjadi cukup merepotkan ketika hujan turun. Dan di kota-kota yang penataannya hanya memenuhi selera kekuasaan, seperti kota Denpasar ini, selalu ada suatu pemandangan yang klise manakala hujan mulai rajin berkunjung: di sini banjir, di sana banjir, di mana-mana banjir melulu. Tetapi tidak jarang hujan justru datang membawa pesan keindahan. Terutama ketika hujan setelah kemarau yang panjang seperti sekarang ini. Pastilah akan tercium wangi tanah kering yang seketika basah, dan juga aroma segar dari dedaunan dan rerumputan yang terbawa bersama kesejukan udara. Atau ketika hujan turun di ujung senja hari, ketika lampu-lampu malam mulai terbangun dari tidurnya, cahayanya terpantul begitu indah di setiap genangan air dan di seluruh badan jalan yang mengkilap seperti baru habis dipel. Hujan juga terkadang membawa lamunan kembali ke masa silam, ketika kecil asyik bermain hujan-hujanan: amboi betapa segarnya menikmati hujan primitif yang murni, yang masih belum dikenal sebagai “hujan asam”. Juga di masa itu, di waktu ketika kepolosan dan imajinasi masih bebas bersuka ria, hujan tampak bagai sebuah peristiwa ketika seorang dewa nun jauh di langit sana sedang menyirami kebunnya. Chuang 011201