Archive for January, 2006

Gandhi Yang Kesepian

Tuesday, January 17th, 2006

Di masa seperti sekarang ini, di waktu amarah memenuhi udara dan dendam membakar dada setiap orang, adakah kita ingat akan Gandhi?

Meskipun orang-orang memberinya gelar Mahatma, Gandhi mungkin bukan sosok yang sempurna. Tetapi apa yang ia coba buktikan pada dunia, bahwa kekerasan dapat dilawan dengan kelembutan, api dipadamkan dengan air, telah membuka mata kita: ada satu cara yang jauh lebih mulia dalam menghadapi kekerasan.

Tetapi cara Gandhi itu, ahimsa, bukanlah cara yang mudah. Sebab ia membutuhkan kesabaran dan pengendalian diri, yang kedua itu pada kita makin lama makin pupus. Dikarenakan kehidupan kita yang hedonis, serba instan dan materialis.

Dan kini, ketika orang lebih memilih tuntunan amarah dan dendam, mata di bayar mata, nyawa di tukar nyawa, terror di balas terror, Gandhi tak teringat lagi. Gandhi yang malang. Gandhi yang kesepian di tengah hiruk pikuk amarah dan dendam balas membalas.

Chuang 280901

Orang Gila dan Orang Waras

Tuesday, January 17th, 2006

Sebuah berita di koran hari ini melaporkan pada saya tentang sebuah survei yang hasilnya sungguh2 mengejutkan: satu di antara empat penduduk Indonesia mengalami gangguan jiwa.

Atau bila ditulis dengan kalimat yang lebih bombastis, kata gangguan jiwa pada judul laporan tersebut dapat diganti dengan kata "gila" (walaupun penggantian kata ini tidak sepenuhnya dapat dibenarkan, karena seseorang yang mengidap gangguan jiwa belum tentu gila), maka kalimat tersebut akan berbunyi sbb: satu di antara empat penduduk Indonesia adalah orang gila.

Tentunya ini bukan kabar yang menyenangkan, bukan? Sebab, siapa sih yang senang disebut sebagai orang gila? Mungkin reaksi kita akan persis sama seperti pejabat-pejabat di masa ORBA dulu, yang dengan serta merta bertingkah laku bak orang kebakaran jenggot kala mendengar kabar bahwa rakyat di daerahnya mengalami bencara kelaparan.

Kembali ke soal orang gila itu. Kita mengetahui atau kita dapat menyebut seseorang sebagai orang gila bila orang tersebut memenuhi kriteria-kriteria kegilaan. Dan sebaliknya, seseorang pun dapat disebut waras apabila orang tersebut memenuhi kriteria-kriteria kewarasan.

Persoalannya, siapakah sebenarnya yang berhak menyusun kriteria-kriteria kegilaan dan kewarasan, dan dengan demikian berhak memutuskan seseorang sebagai orang gila dan lainnya sebagai orang waras? Siapakah si tukang stempel itu, yang mencap stempel waras pada seseorang, dan mencap stempel gila pada lainnya?

Di dunia dimana orang-orang yang mengaku waras lebih dominan, maka siapa pun yang bertingkah laku diluar kriteria kewarasan yang sudah menjadi kesepakatan, akan dengan mudah dicap sebagai orang gila. Dan dunia kita sekarang ini, tampaknya, adalah dunia seperti itu.

Tetapi andaikata ada sebuah dunia di mana orang-orang yang kita anggap gila adalah pihak yang dominan, pihak yang berkuasa penuh. Tentunya siapa pun yang dianggap bertingkah laku waras (menurut anggapan kita di dunia kita ini), akan di cap sebagai orang gila di dunia seperti itu, bukan?

Kalau soalnya jadi begini, lalu siapakah sebenarnya orang gila dan siapa yang benar-benar waras?

Bingung ya? Saya juga bingung koq hehehhehehehehe…….

Chuang 210802

Orang Yang Berbahagia

Tuesday, January 17th, 2006

Apakah dapat disebut egois bila dalam setiap doa kita, kita mengharapkan kebahagiaan untuk diri kita sendiri?

Seorang teman dalam satu kesempatan menvonis saya sebagai orang yang egois, karena ketika ia bertanya kepada saya,”Seandainya kamu diberi kesempatan untuk mengajukan permintaan, apakah yang akan kamu mintakan?” Saya menjawab,”Saya menginginkan kebahagiaan.”

Apa salahnya mengharapkan kebahagiaan untuk diri kita sendiri?

Saya percaya bahwa setiap orang yang berbahagia adalah pribadi-pribadi yang elok, yang bijak dan hidup dalam kebajikan. Tak akan pernah ada seorang yang berbahagia, menjadi si trouble maker, tukang rusuh yang menyebalkan. Sebab ia sendiri adalah orang yang berbahagia, maka ia akan berkecenderungan untuk memancarkan kebahagiaannya itu kepada orang-orang disekitarnya, kepada setiap orang yang mengenalnya, melalui setiap pikiran, perbuatan dan perkataannya. Pendek kata, ialah yang dapat kita sebut sebagai “ yang membawa kebahagiaan bagi setiap makhluk.”

Sebaliknya si tukang rusuh, tukang buat masalah dan sejenis itu, umumnya dapat dipastikan adalah orang-orang yang tak berbahagia. Dikarenakan ia sendiri pada dasarnya tak berbahagia, ia lalu memancarkan ketidakbahagiaannya itu dengan membuat orang lain juga tak bahagia: membuat rusuh, menciptakan berbagai masalah bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain.

Chuang 220202