Archive for July, 2005

Hong-Hong Sang Guru

Monday, July 18th, 2005

Tiap hari sabtu, hong-hong sang guru datang ke rumah saya untuk berakhir pekan, sekaligus sambil memberi les privat tentang bagaimana menahan diri, mengembangkan kesabaran, kasih sayang dan pengorbanan kepada saya. Ia akan datang dengan disertai senyum khasnya yang jenaka, dengan binar matanya yang bening, dengan celoteh-celotehnya yang ramai.

Pada awalnya, pelajaran-pelajaran yang diberikannya tidaklah susah sangat, tetapi makin lama makin terlihat kerumitannya. Tetapi anehnya, saya tidak pernah kapok. Berbeda halnya ketika saya harus belajar matematika. Atau ketika saya harus memeras otak untuk memahami mata kuliah analisa numerik.

Sebab cara hong-hong sang guru mengajar, bagi saya, sangatlah unik dan menyenangkan, hingga saya tidak merasa sedang diajar.

Ia misalnya, akan dengan cueknya lari ke sana kemari, mengacak-acak mainannya, kemudian lari lagi mengambil mainan yang lain dan mengacak-acak kembali, berceloteh dengan bahasa yang aneh tapi lucu, yang kadang-kadang dapat juga tertangkap maknanya.

Ia misalnya, akan dengan tanpa dosa mengompolin celana yang baru saja diganti akibat ompolnya yang sebelumnya. Dan ketika harus memakai celana, ia kadang-kadang menolak, untuk memilih bertelanjang bulat lari keluar hingga “burung”-nya bergoyang gontal gantul kiri kanan kiri kanan, seperti bandul jam.

Hong-hong sang guru baru berusia 1 tahun 8 bulan. Karena itu, ia belum cukup umur untuk mendapat titel profesor.

Tetapi bagi saya, ia adalah ponakan sekaligus guru saya. Guru yang mengajarkan saya bagaimana untuk tetap sabar menghadapi tingkah lakunya, bagaimana untuk bersedia mengorbankan waktu luang saya demi untuk menemaninya bermain, bagaimana untuk tetap mengasihinya meskipun ia membanting mouse saya, atau memukul-mukul dengan keras keyboard kesayangan saya.

Ia adalah guru saya, dan saya tidak malu untuk berguru pada anak 1 tahun 8 bulan.

Chuang 250401

Baja Terbaik

Monday, July 18th, 2005

Bagi seorang pemenang, kesulitan atau rintangan justru menjadikannya makin kuat. Dalam kata pepatah, “Baja terbaik dibentuk dari api terpanas”.

Seperti Beethoven. Dari sejarah kehidupannya, kita temukan justru pada masa2 ketika telinganya mulai menjadi tuli, karya2 musik yang diciptakannya dikenang dunia sebagai karya2 terbaiknya sepanjang masa.

Di koran Kompas, pada halaman belakang dari koran utamanya (halaman 12), saya sering membaca kisah2 kepahlawanan dari orang2 yang mengalami situasi sulit. Seperti Ibu Sabariyah yang dengan sabar mendidik anak2 dari suku pedalaman di Papua, Mama Yosepha yang mendirikan asrama bagi anak2 suku pedalaman, dan yang terakhir saya baca, Dokter Paskalis Taa, dokter pertama dari Sorong, yang mengabdikan dirinya kepada masyarakat Sorong selayaknya seorang dokter sejati.

Tampak jelas dari kisah2 tsb, bukan suatu kebetulan belaka bila Ibu Sabariyah, Mama Yosepha dan Dokter Paskalis Taa berasal dan/atau berkiprah di Papua, suatu daerah yang dapat dikatakan sebagai daerah sulit minim fasilitas: suatu daerah yang merupakan “api terpanas” yang membentuk “baja2 terbaik”.

Beethoven, Ibu Sabariyah, Mama Yosepha dan Dokter Paskalis Taa, adalah sebagian dari orang2 yang tak menyerah pada nasib, pada kesulitan dan rintangan. Dalam hal Beethoven, ia tak menyerah pada ketulian yang dideritanya. Dalam hal Ibu Sabariyah, ia tak takut akan hadangan arus sungai, medan yang sulit dan hutan belantara ketika ia pergi mengunjungi murid2nya. Dalam hal Mama Yosepha, ia tetap tabah menghadapi minimnya fasilitas bagi anak2 asramanya. Dan dalam hal Dokter Taa, ia teguh dan tak tergoyahkan oleh segala kesulitan yang harus dihadapi dalam usaha mencapai cita2 dan impiannya.

Saya yakin masih ada banyak kisah lain dari orang2 yang menjadi “baja terbaik dari api yang terpanas”. Dan kalau saja setiap dari kita bersedia bercermin dari kisah para pemenang tersebut, akan kita temukan bahwa bumi ini tak pernah kekurangan manusia2 pemenang, para penakluk yang menjadikan dirinya sebagai pahlawan bagi dirinya, serta bagi bumi yang telah memberi tempat untuk kita.

Chuang 190502