Archive for April, 2005

Mengenang Mereka yang Telah Pergi

Tuesday, April 12th, 2005

Terkadang, di tengah-tengah kesibukkan kita berenang di dalam aliran rutinitas hidup, pikiran tiba-tiba saja bisa menjadi cukup jernih untuk menyadari suatu hikmah seperti selayaknya pikiran dari orang yang sedang berkontemplasi.

Demikianlah yang terjadi pada saya, ketika makan siang tadi tiba-tiba saja pikiran saya terkenang akan orang-orang dalam keluarga yang telah pergi dari dunia ini.

Seperti sedang membuka-buka album foto keluarga, bayangan wajah dari mereka yang saya kenal dan kasihi, juga yang tak sempat saya kenal dan kasihi, melintas jelas dalam benak saya.

Dan terutama sekali, saya mengenang paman kakak tertua dari ibu yang wafat dua bulan lalu. Paman yang baik hati dan ramah pada anak-anak, yang dahulu ketika saya masih kecil suka sekali memberi hadiah permen kepada setiap anak yang bersedia bernyanyi untuknya.

Sebenarnya sebelum ini saya sudah seringkali mengalami kematian dari anggota keluarga besar saya, baik dari pihak ayah ataupun ibu. Tetapi entah mengapa kematian paman kakak tertua ibulah yang menjadi pemicu kesadaran saya mengenai waktu yang terus berputar, perubahan yang selalu abadi: mereka yang dulunya muda pada akhirnya akan tua dan mati, digantikan oleh yang sekarang muda dan kelak pasti akan tua dan mati juga.

Lalu dalam arus perenungan yang sama, saya teringat akan kenangan masa kecil, akan sepupu-sepupu saya dan juga beberapa keponakan yang sebaya dengan saya, yang dahulu masih sama-sama sebagai kanak-kanak atau remaja, kawan bermain dan bergulat dalam suka ria, tetapi kini hampir sebagian besar dari mereka sudah dewasa dan berkeluarga, sibuk berjuang demi kehidupan yang lebih baik bagi diri serta keluarganya.

Betapa cepatnya waktu berlalu!

Dari satu generasi menuju generasi lain kehidupan diwariskan, dan dari orang-orang yang telah pergi kita sadari benar akan perubahan yang abadi dalam hidup ini. Mengenang kembali mereka yang telah pergi, membuat saya makin meneguhkan hati untuk berbuat sebaik-baiknya dalam hidup ini. Sebab kita semua—saya dan anda– tak tahu pasti apa yang akan terjadi esok kecuali hanya kematian yang pasti akan menjemput kelak. Agar ketika saatnya pergi telah tiba, saya dapat meninggalkan warisan yang cukup berharga bagi generasi penerus, dan membawa bekal yang cukup banyak untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Dan pada akhirnya untuk tak kembali lagi.

Semoga.

Chuang 010404

Menjadi Ksatria Pelangi

Friday, April 1st, 2005

Ketka suatu hari aku membaca kisah mengenai para pembela dan pecinta bumi yang tergabung dalam kelompok “Green Peace”, hatiku ikut bergetar dan terharu. Ingin sekali aku mengikuti jejak mereka, menjadi ksatria pelangi yang melindungi dan membela ibu bumi dari orang-orang serakah yang hendak mencabik-cabiknya.

Tetapi untuk mengikuti jejak langkah mereka yang sudah berjalan begitu jauh, berlari demikian kencang, kurasa aku masih belum mampu. Bukannya ingin mencari alasan pembenar atau berlagak cengeng, tetapi kenyataan berbicara, sampai batas-batas tertentu aku memiliki banyak sekali kelemahan dalam diriku yang tak memungkinkan aku dengan gagah berani, misalnya, ikut serta menghadang kapal tanker pembawa limbarh nuklir, atau pergi ke suatu tempat untuk mencegah terjadinya percobaan bom atom.

Untunglah sebagai anak-anak bumi, kita semua memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk mencintai ibu kita. Dan itu pun tak harus dilakukan dengan satu cara yang sama, sebab cinta dapat diekspresikan dengan seribu satu cara.

Maka, biarlah anggota-anggota “Green Peace” menjadi ksatria-ksatria pelangi yang besar nan gagah berani, dan bertarung di pentas yang lebih megah. Aku cukup puas menjadi seorang ksatria pelangi kecil, yang mencintai ibu bumi dengan cara yang sederhana:

1. Sedapat mungkin tak pernah menyisakan dan membuang makanan dan minuman.

2. Selalu menyimpan tas plastik untuk digunakan berulang-ulang selama mungkin.

3. Selalu ingat untuk mematikan lampu atau peralatan elektronik jika sudah tidak diperlukan lagi. Juga, selalu ingat untuk menutup kran air supaya air tak terbuang percuma.

4. Selalu ingat untuk mengumpulkan kertas-kertas tak terpakai, atau yang menjadi limbah buangan dari proses pencetakan yang tak sempurna, atau kertas-kertas dari kalender china, untuk dipakai menulis pesan-pesan pendek atau draf esai (seperti juga esai ini). Atau cuma iseng-iseng dilipat menjadi pesawat-pesawatan untuk meriangkan hati keponakanku.

5. Suatu saat, aku ingin memiliki rumah yang ramah lingkungan, nyaman dengan tamannya yang luas dan pohon-pohon yang rindang, dan dibuat berdasarkan eko arsitektur.

Chuang 010405